TENTANG MEDIA MASSA : PART 2

Di berbagai forum dan mailist tentang tanaman hias semakin ramai membicarakan tentang media massa yang dirasakan sudah tidak objektif lagi tentang berita menyangkut trend tanaman hias, ada yang bilang media massa sekarang bisa dibeli oleh para pemain besar dan kaum kapitalis, berita-berita yang ada hanya memihak pihak-pihak yang berkepentingan dan yang menguntungkan redaksi, media hanya memuat berita yang sensasional tapi tidak sesuai dengan fakta di lapangan, wartawannya yang asal kutip dari narasumber yang berkepentingan, bahkan media massa yang bisa dibilang terbesar di Indonesia dikecam habis-habisan tentang headline-nya Booming Sansevieria. Diberitakan bahwa transaksi besar-besaran sudah terjadi dan sebentar lagi menggantikan booming Anthurium sebelumnya. Tapi fakta dilapangan sangat jauh berbeda.

Menurut saya pribadi, dengan pemahaman saya bahwa media sebagai media penyampai informasi, berita terkini, update kejadian seputar tanaman hias, media promosi baik iklan maupun profil perusahaan sangatlah berperan besar bagi perkembangan dunia tanaman hias umumnya. Dan kita sebagai pembaca harusnya bisa memilah mana yang aktual dan terpercaya, mana yang jebakan mencari sensasi demi meningkatnya omset penjualan. Nah, seiring berjalannya waktu dengan para pembaca yang semakin kritis dan cerdas dan mampu membedakan mana yang bonafid dan yang tidak, maka seleksi otomatis akan berjalan dan media yang tidak bonafid akan hilang/tutup dengan sendirinya.

Pada dasarnya saya lebih menyetujui “saran & kritik” daripada hujatan. Saya sendiri pernah merasakan keberatan dengan media cetak “AGROBIS” Jawa Pos Grup karena di halaman BURSA-nya memuat foto-foto Anthurium saya di blog, tetapi dengan harga yang lebih rendah dan semua itu tanpa konfirmasi dulu. Pemberitaan tersebut jelas merugikan saya, karena banyak teman yang mengira saya membanting harga dan tentu saja tidak mengenakkan bagi rekan-rekan pemain. Tapi saya tidak menuntut apapun, karena saya berusaha memaklumi bahwa saat itu mungkin redaksinya kekurangan berita dan halaman belum penuh… Belum lagi artikel gutasi yang dimuat ulang tanpa mencantumkan sumber yang jelas, foto-foto saya yang dimuat tapi atas nama pemilik orang lain ( di beberapa media cetak dadakan ) yang tentu saja mengecewakan saya. Untuk hal seperti itu bagi saya bukan masalah yang harus diperpanjang, tapi kalau berita/artikel tentang ilmu tanaman yang bertentangan dengan yang sebenarnya ( misal penyilangan yang tak bisa terjadi tapi dibilang sudah jadi ) saya sangat keberatan sekali dan harus segera diluruskan, karena merugikan banyak orang ( pemula dan orang awam ) dan sudah menjadi pembodohan publik.

Di tengah krisis yang melanda usaha tanaman hias sekarang ini, mungkin para pemain yang sedang mengalami masa sulit menjadi lebih sensitif dan emosional berujung opini dan hujatan yang “kasar” tentang media massa yang dipandang salah dalam pemberitaannya. Tapi kita lupa bahwa media massa dibuat dan berasal dari sumber yang tetaplah manusia biasa yang wajar sekali khilaf melakukan kesalahan. Tentang sensasi demi popularitas saya rasa itu sah-sah saja selama tidak merugikan banyak pihak dan bisa dipertanggungjawabkan. Popularitas lebih cepat dicapai dengan sesuatu yang kontroversial, seperti yang terjadi pada Inul yang semakin popular waktu bermasalah dengan Rhoma Irama, popularitas Roy Suryo di dunia maya dengan pernyataan sensasionalnya dan masih banyak lagi.

Mari berusaha bijaksana dan memandang semuanya dengan akal dan hati yang sehat, mari bersama-sama memajukan dunia tanaman hias Indonesia sesuai “kapasitas diri” jangan hanya menyalahkan tapi tak punya solusi untuk meluruskannya, Apa saja yang sudah kita perbuat untuk memajukan dan bermanfaat bagi orang banyak ? Bukankah kita sering lupa ketika keuntungan terus mengalir dan hanya berusaha mencari keuntungan yang lebih besar? Bukankah kita sering lupa bahwa media juga sangat berperan besar bagi usaha kita ? Apakah bisa dibilang kebenaran jika karena tanaman kita tak laku lagi kita sibuk mencari kesalahan-kesalahan pihak lain ? Kita selalu menyalahkan para pemain/pemodal besar, para spekulan, tapi kenapa kita tidak menjadi pemain besar atau spekulan juga? Karena kita tidak mampu untuk kearah sana, dan apakah kita tidak menyadari bahwa sesuatu usaha yang besar dihadapkan pada resiko yang juga lebih besar ? Bukankah kita sering lupa bercermin, sudahkah kita berpikir maju dan memajukan diri sendiri ?

Selalu ada pro kontra menanggapi opini seseorang, banyak juga yang menghujat saya sok nasionalis, pembela yang lemah, sok bersih dan bijaksana, dan masih banyak lagi. Saya menyadari sebenar-benarnya bahwa saya masih harus belajar banyak dan introspeksi diri. Mari bersama-sama tegar dan segera bangun dengan strategi dan pemikiran baru.





0 comments:

Posting Komentar

SILAHKAN KETIK COMMENT ANDA.