KRISIS ATAU TRAUMA PUBLIK ?

Di tahun 2008 sampai dengan bulan April, bisnis tanaman hias mengalami tidur panjang di seluruh penjuru Indonesia. Para pemain di bisnis ini banyak sekali yang mengeluh dan putus asa karena banyak dari mereka yang menggunakan modal yang cukup besar untuk bermain di jual beli tanaman hias. Ada yang rela menjual mobil, rumah, tanah dan properti lain untuk mendatangkan tanaman hias yang sedang trend dalam jumlah yang besar berharap keuntungan yang segera berlipat ganda.

Dan kini, ketika geliat pasar tanaman hias yang tetap sepi, animo masyarakat dengan event-event besar juga menurun drastis, mereka hanya melihat-lihat tapi masih ragu membeli. Ada yang beralasan masih menunggu harga murah, ada yang takut kalau tanaman yang mau mereka beli tak laku lagi, ada yang mengaku trauma dengan harga Anthurium yang gila-gilaan kemudian turun drastis, ada yang mengunjungi pameran hanya untuk melihat perkembangan dunia tanaman hias umumnya.

Rangkaian bencana alam yang melanda republik ini juga sangat mempengaruhi roda perekonomian di segala bidang usaha. Daya beli masyarakat masih belum stabil ? Atau kepercayaan publik menurun dengan berita media massa yang dirasakan tidak sesuai fakta dan tidak objektif lagi ikut berpengaruh dengan semua ini ? Apakah masyarakat masih trauma dengan booming Anthurium kemarin ? Apakah orang yang membeli tanaman hias lebih banyak dengan alas an bisnis daripada orang yang membeli karena hobby dan kesenangan saja ? Apakah persiapan menjelang pemilu 2009 ikut mempengaruhi bisnis tanaman hias ? Apakah jumlah di lapangan terlalu over yang tidak sesuai dengan permintaan pasar ? Bagaimana perkembangan di Thailand sana ? Apakah mereka siap menggelontor pasar Indonesia dengan varian baru seperti yang dulu-dulu ? Bagaimana nasib tanaman hias lokal kedepannya ?

Banyak rekan-rekan pemain mengirim email yang menanyakan perkembangan Anthurium kedepannya, mereka juga sedikit menyindir saya yang mengatakan kesannya saya tenang-tenang saja walaupun pasar Anthurium sepi… Sebaliknya “rekan-rekan seperjuangan” di Anthurium banyak yang bercanda bahwa bukankah keuntungan booming Anthurium kemarin cukup untuk “makan” untuk 3-5 tahun kedepan ? Ngapain bingung? Lebih baik investasi dibidang lain yang sedang in, sementara menunggu celah dalam perkembangan tanaman hias jika bergeliat lagi. Alasan ini juga cukup “masuk akal” dan saya memaklumi karena latar belakang beliau-beliau murni pebisnis atau lebih tepatnya spekulan, jarang sekali dari mereka yang “hanya” menggantungkan hidupnya dibisnis tanaman hias. Saya sendiri saat ini juga lebih fokus dibidang peternakan dan ukiran kayu, tapi memang usaha tersebut lebih dulu saya jalani sebelum saya mendirikan nursery. Karena prinsip saya yang tidak mungkin menggantungkan hidup di satu bidang usaha saja, karena saya memandang semua bisnis tidak ada yang abadi ( mungkin bisnis pornografi saja yang mampu bertahan sampai akhir jaman …) Selalu ada pasang surut dalam suatu usaha, dan sebagai wirausaha murni saya dituntut untuk selalu membaca peluang dan celah dalam bisnis. Dan yang pasti tidak ada diantara para orang sukses yang tidak pernah mengalami kegagalan bukan ?

Pertanyaannya, bagaimana nasib orang-orang yang hanya menggantungkan hidupnya dalam jual beli tanaman hias ? sementara modal sudah habis terlanjur dibelanjakan tanaman hias, untuk mengambil pinjaman atau kredit usaha sudah tak mungkin lagi. Biaya operasional perawatan tanaman juga harus dipenuhi, sementara keuntungan penjualan tak bisa menutup biaya tersebut, dan kebutuhan hidup selalu menunggu.

Jika orang-orang yang memperoleh keuntungan besar di Anthurium cuek saja dan cuci tangan, alangkah kejamnya mereka. Tapi mau “membantu meramaikan”, apakah sebab sepinya pasar hanya karena orang trauma Anthurium ? Bukankah masih banyak faktor penyebab lain ? Jika memang disebabkan karena trauma Anthurium, mengapa tanaman hias lain belum ada yang menggantikan trend-nya ? Salahkah mereka jika segera “menyelamatkan diri” dan menggali keuntungan dibidang lain. Seorang sahabat saya bilang “ Ini bisnis Pak Deni, jaman sekarang persaingan sangat ketat dan sulit, dan yang pertama yang harus diselamatkan adalah diri kita sendiri, bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau kita belum bisa “tegak berdiri di kaki sendiri” ?

Sebagian masyarakat kita masih menganut budaya saling menyalahkan, hujat sana hujat sini, mencari kambing hitam, tanpa mau secara gentle mengakui kekurangan diri. Banyak orang yang menghujat oknum-oknum koruptor di republik ini, tapi bolehkah saya mengajukan pertanyaan “ Seandainya anda duduk diposisi mereka ( pejabat ) apakah anda berani menjamin kalau anda tidak akan korup ?” Bukankah manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah berhasil dicapai dan dimilikinya ?

Alangkah bijaksananya jika kita berusaha tegar dan tawakal berusaha sebaik mungkin menghadapi krisis ini tanpa harus saling menyalahkan, berdebat yang tak kunjung habisnya, mencari kesalahan orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Rawatlah tanaman anda sebaik mungkin, kelak pasti bisa mendatangkan keuntungan. Bukankah tanaman selalu tumbuh seiring berjalannya waktu ?

Persaingan bisnis tak ubahnya medan perang. Dan dalam medan perang “ LEBIH BAIK MEMBAWA TIGA SINGA DARIPADA SERIBU KERBAU” anda mau menjadi singa atau kerbaunya ?






0 comments:

Posting Komentar

SILAHKAN KETIK COMMENT ANDA.