Imlek, Buah Naga Laris Manis

buah nagaMenjelang tahun baru Imlek 2562 yang jatuh pada 3 Februari mendatang, buah naga (dragon fruit) laris manis. Sejumlah petani buah di Lumajang dan Probolinggo pun mendapat berkah dari buah yang biasa dijadikan sesaji (samsing) saat Imlek itu.

”Menjelang Imlek, permintaan buah naga luar biasa banyak. Kebetulan buah di kebun saya sudah mulai panen awal Januari lalu,” ujar H Ichsan Arguanto (81), petani buah naga di Desa Wotgalih, Kec. Yosowilangun, Lumajang, Senin (24/1).

Petani di kawasan pantai selatan itu mengaku, menanam buah naga sejak sekitar delapan tahun silam di lahan seluas sekitar 3 hektare (Ha). Tanaman jenis kaktus asal Amerika Selatan itu biasa berbuah pada Januari-April. ”Menurut literatur yang saya baca, tanaman asal Amerika Latin itu kemudian berkembang di China dan Taiwan, belakangan masuk ke Indonesia,” ujar H Ichsan.

Setiap hektare areal tanaman buah naga, kata H Ichsan, bisa menghasilkan 50-60 ton buah segar yang dipanen sepanjang Januari-April. ”Minggu kemarin saya panen 4 ton, langsung terjual habis dengan harga Rp 7.000-10.000 per kilogram tergantung ukuran buah,” ungkap H Ichsan.

Sejumlah swalayan di Lumajang, Probolinggo, Malang, hingga Surabaya sudah mengantre pesan buah naga kepada H Ichsan. ”Belum termasuk warga yang datang untuk memetik dan membeli buah di kebun,” ujarnya.

Ditanya apakah ada kenaikan harga buah naga menjelang Imlek, H Ichsan mengatakan, kalau di tingkat petani hanya sedikit kenaikan sekitar Rp 1.000/kg. ”Yang menaikkan harga buah naga berlipat-lipat biasanya setelah di tangan pedagang. Dari petani Rp 10 ribu per kilogram, di supermarket bisa sampai Rp 30 ribu,” ujarnya.

Laris-manisnya buah naga juga diakui H Machfud Sahal, Ketua Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) An Nur. Lembaga di bawah Pesantren An Nur, Kel. Sumbertaman, Kec. Wonoasih, Kota Probolinggo, itu mengaku kewalahan melayani pesanan buah naga.

Dikatakan H Machful, pesantren yang diasuh KH Shihabuddin itu mempunyai tiga petak tanaman buah naga di kompleks pesantren. Tiap petak terdapat 550 patok, satu patok berisi 4 batang tanaman buah naga. Pesantren An Nur juga mempunyai petak tanaman dengan 100 patok di Kel. Kebonsari Wetan, Kota Probolinggo dan 300 patok di Desa Banyuanyar Lor, Kab. Probolinggo.

Sementara itu Ketua III Yayasan Tri Dharma Sumber Naga, Kota Probolinggo, Adi Susanto, mengakui, buah naga memang banyak dicari warga Tionghoa yang merayakan Imlek. ”Buah naga dijadikan samsing atau persembahan,” ujarnya.

Adi menambahkan, dalam perayaan Imlek warga memang harus memberikan persembahan yang disebut samsing berupa buah, bunga, dan kue yang terdiri dalam lima warna (kuning, hijau, hitam, putih dan merah). Buah berwarna merah itu alternatifnya buah naga yang kulitnya berwarna merah menyala. ”Kalau tidak ada buah naga, biasanya diganti dengan apel merah,” ujarnya.

Berita dan Foto dari Surabaya Post

0 comments:

Posting Komentar

SILAHKAN KETIK COMMENT ANDA.