Produktivitas Buah Naga Turun Akibat Cuaca Ekstrem

buah nagaCuaca ekstrem telah memupus harapan Said (70) untuk bisa meraup untung banyak menjelang pergantian tahun baru Cina (Imleks/Sincia 2561) yang jatuh 3 Februari 2011.

Tanaman buah naga (dragon fruit) yang ditanam di kebunnya Dusun Sempu, Desa Ngadirejo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, tidak berbuah maksimal seperti tahun-ahun sebelumnya.

“Setiap pohon hanya berbuah dua-tiga. Tahun lalu sampai 20 buah/pohon,” tutur Samsudin (45), pegawai Kebun Buah Naga Sempu, Kamis (27/1).

Soal animo pembeli, masih tetap tinggi. Tak hanya warga Magelang, tetapi juga Semarang, Temanggung, Solo, Wonosobo dan Salatiga. Karena di kebun itu tersedia 1.200 batang pohon buah naga.

“Tetapi sayangnya pesanan tak dapat dipenuhi karena jumlah hasil panen tidak memadai. Yang kasihan pemesan dari Semarang gagal mengirimkan buah naga dari Sempu kepada kerabatnya di Hong Kong,” tutur Erna, pegawai lain di kebun itu.

Menurut Said, yang banyak dicari menjelang Imlek, buah naga berwarna merah dan super merah serta bersirip panjang. Mereka biasanya memerlukan untuk sesaji dan dikonsumsi sendiri.

Said menanam buah naga lima tahun silam. Bibitnya membeli di Pasuruhan, Jatim, Rp 15.000 dengan ukuran panjang 15 cm. Bibit itu ditanam pada lahan seluas 1.500 meter persegi. Umur satu setengah tahun tanaman itu berbuah. Panen tiap musim hujan antara Oktober sampai April. Setiap kubangan menghasilkan 8 buah, masing-masing seberat 0,5 kg. Tetapi ada juga yang mencapai 9,78 Gram. Oleh Said, buah itu dijual Rp 20.000/kg.

Buah naga yang dikembangkan Said jenis kulitnya kuning kemerahan dengan daging putih (selenicerius megalanthus). Ia juga mulai membudidayakan buah naga jenis daging super merah (hylocereus costaricensis). Buah naga super merah oleh sebagian kalangan diyakini bisa menurunkan kadar gula dan kolesterol.

Berita dan Foto dari Suara Merdeka

0 comments:

Posting Komentar

SILAHKAN KETIK COMMENT ANDA.