Hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman buah naga dikelompokkan menjadi tiga :
1. Hama Semut Merah
Semut merah biasa menyerang bagian ujung batang yang masih muda dan pergelangan ruas batang. Dia masuk dan membuat rumah didalam batang. Bagian yang terserang akan berwarna kuning, berlubang kemudian kering dan mati. Pemberantasan hama serangga ini dengan menggunakan insektisida, misalnya : Basudin 50 EC atau Matador.
2. Hama Bekicot
Hama bekicot menyerang tunas – tunas muda calon cabang buah naga. Bekas gigitan bekicot akan mengundang serangan hama jamur atau bakteri yang menyebabkan tanaman layu. Pemberantasannya dengan membuang dan membasmi semua bekicot yang berada di tanaman dan sekitar tanaman.
3. Penyakit Jamur
Jamur Fusarium oxysporum Schl yang menyerang tanaman buah naga menyebabkan penyakit layu fusarium. Jamur ini menyerang karena tanah atau media tanamnya tidak bisa membuang air dengan lancar. Tanaman yang terserang jamur menjadi layu dan pelan – pelan kering. Untuk menanggulangi penyakit ini bisa digunakan fungisida seperti Benlate T 20 WP atau Derosal 60 WP dengan cara disemprotkan pada bagian tanaman yang terserang penyakit.
Selain layufusarium, serangan jamur juga menyebabkan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman buah naga. Jamur yang menyerang pangkal batang ini jamur Sclerotium rolfsii Sacc. Serangan jamur ini bahkan bisa menghabiskan batang sehingga tinggal “tulang” kayunya saja. Pemberantasannya dengan fungisida. Pengalaman di kebun kami, penyakit ini diberantas dengan air sabun colek. Caranya, dengan mencampur 1 sendok makan garam, 1 sendok teh sabun colek dan 17 liter air. Kemudian air sabun colek ini dioleskan pada bagian yang terserang jamur.

Perawatan tanaman buah naga mutlak diperlukan jika menginginkan berhasil dalam budidaya buah naga. Perawatan yang perlu dilakukan untuk tanaman buah naga meliputi hal-hal berikut :
1. Penyiraman tanaman
Penyiraman harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, serta memperhatikan waktu penyiraman. Pada masa awal penanaman, penyiraman bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Jika penanaman dilakukan pada musim kemarau, kebutuhan penyiraman tiap hari menjadi mutlak diperlukan. Tetapi pada musim penghujan, frekuensi penyiraman bisa dikurangi tergantung curah hujan. Ketika curah hujan tinggi, jangan melakukan penyiraman.
2. Pemberian pupuk
Salah satu perawatan yang harus dilakukan pada tanaman buah naga adalah pemupukan. Mengenali sifat pupuk sangat penting dalam hubungan kebutuhan pupuk bagi tanaman buah naga. Dengan demikian bisa diketahuai pada setiap tahap pertumbuhan tanaman jenis pupuk apa yang dibutuhkan. Unsur nitrogen (N) dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar pada awal masa pertumbuhan tanaman yakni sejak tanaman muda hingga menjelang berbunga dan berbuah. Ketika tanaman buah naga mendekati masa berbunga tanaman banyak membutuhkan pupuk dengan kandungan fosfor (P) dan kalium (K) yang tinggi. Pemupukan harus dilakukan secara berkala sehingga dapat terpenuhi respon yang cepat dari pertumbuhan buah naga.
3. Pengaturan percabangan
Pengaturan cabang bertujuan untuk mengatur pembuahan dan untuk menjaga kesehatan tanaman. Pengaturan percabangan ini dilakukan dengan cara pemangkasan cabang dan tunas bakal cabang. Sebaiknya pemangkasan dilakukan pada bakal cabang yang masih dalam bentuk tunas. Karena luka bekas pemangkasan tunas cabang tidak akan membahayakan bagi kesehatan tanaman. Cabang boleh saja dipelihara jika tumbuh pada ujung atas cabang, itupun jumlahnya harus dibatasi. Maksudnya agar pertumbuhan menjadi optimal. Pengaturan cabang yang baik dengan pola 1-3-5. Artinya, 1 batang utama, 3 cabang pertama, dan 5 cabang kedua. Buah hanya boleh muncul pada cabang kedua, jumlahnyapun dibatasi. Biarkan tumbuh 15 buah saja. Dengan asumsi tiap cabang menghasilkan 3 buah.

Tanaman buah naga tidak membutuhkan lahan tanam yang luas dan dalam . Karena akarnya hanyalah akar permukaan, berbentuk serabut, pendek ( maksimal 30 cm ), tidak menembus jauh sampai ke dalam tanah. Sehingga lahan tanam yang sebenarnya harus benar-benar diolah tidak begitu luas. Minimal dalam radius 1 meter dari tanaman, lahan harus diolah. Hal yang penting lagi adalah mempersiapkan lubang tanam. Luas lubang tanam adalah 40 x 40 cm dan kadalaman 50 cm. Lubang tanam harus benar-benar disiapkan sesuai dengan kebutuhan tanaman buah naga. Ke dalam lubang tanam harus terisi dengan media tanam yang subur, gembur atau porous dan mengandung banyak unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman buah naga. Selain itu, karena tanaman buah naga termasuk tanaman yang merambat atau tidak bisa berdiri sendiri, maka perlu dibuat tiang penyangga. Tiang ini fungsinya untuk tempat merambat dan menopang tanaman buah naga.
Langkah - langkah dalam mengolah lahan dan menanam buah naga seperti berikut :
Langkah 1 : Membuat bedengan.
Tanah yang akan dibedeng harus diolah terlebih dahulu. Lapisan tanah dibalik - balik dengan menggunakan cangkul atau hard tractor sampai tanahnya cukup gembur. Berikutnya membuat bendengan - bendengan dengan 1,5 meter memanjang. Untuk menambah kegemburan dan kesuburan tanah, akan lebih baik jika tanah bedengan dicampur dengan kompos, abu sekam atau coco peat (daging kulit kelapa yang sudah diambil seratnya). Antar bendengan buatkan parit untuk saluran air. Buat sedemikian rupa agar parit mudah diairi dan mudah pula ketika membuang air.
Langkah 2 : Memasang tiang penyangga
Langkah berikutnya adalah memasang tiang penyangga. Tiang penyangga merupakan kebutuhan mutlak dalam budidaya buah naga, karena tanaman buah naga tidak bisa berdiri sendiri sehingga perlu penopang. Bahan tiang penyangga juga harus kuat dan tahan lama, karena usia tanaman ini bisa mencapai 20 tahun. Bahan dengan sifat demikian biasanya terbuat dari bahan beton. Untuk mengurangi volume beton, serta untuk menghemat investasi, buat tiang beton yang berpenampang segitiga. Penampang tiang sebaiknya berbentuk segitiga sama sisi, dengan lebar sisi-sisinya 10 cm. Panjang tiang 2 meter, yang setengah meter di tanam ke dalam tanah.
Tiang penyangga dipasang atau ditanam tepat di tengah bedeng. Untuk menopang batang dan cabang tanaman, di bagian ujung atas tiang dipasang besi melingkar menyerupai setir mobil, dari bahan besi beton diameter 10 mm. Antar tiang penyangga berikan jarak minimal 2 meter.
Langkah 3 : Membuat lubang tanam
Lubang tanam digali di sekitar tiang penyangga. Buat 3 atau 4 lubang tanam dengan luas lubang 40 x 40 cm dan kedalaman 50 cm. Bersihkan lubang dari batu-batuan dan dari sampah plastik. Ke dalam setiap lubang galian di isi ; pupuk dasar dan media tanam. jika pupuk dasar dari pupuk kandang, berikan sebanyak 4 kg per lubang. Langsung masukkan ke dasar lubang. Ingat, pupuk kandang harus sudah matang (sudah tak berbau dan sudah menjadi tanah). Jika pupuk dasar dari pupuk kimia dosisnya sebanyak 60 gram SP 36, 60 gram KCL dan 20 gram ZA/Urea. Pupuk dasar kimia ini kemudian dicampur dengan tanah top oil (tanah lapisan atas) bekas galian. Isikan sedalam sepertiga dari dalam lubang.
Baru di atasnya diisi dengan media tanam. Media tanam terdiri dari bahan-bahan campuran antara 1 bagian dolomit : 7 bagian kompos, 5 bagian pasir dan 10 bagian tanah kebun. Semua bahan dicampur dan dimasukkan ke dalam lubang. Biarkan lubang tanam yang telah siap ini sekitar satu minggu.
Langkah 4 : Melakukan penanaman.
Buat lubang lagi di tengah-tengah lubang yang berisi media tanam secukupnya (sesuaikan dengan besar bibit tanaman buah naga). Ambil bibit buah naga, buang plastik polibagnya, kemudian tanam dengan hati-hati (minimal sedalam 10 cm).

Ada beberapa pertanyaan yang mampir di email saya tentang Buah Naga ( Dragon Fruit ) tentang budidaya dan kalkulasi usahanya. Saya muat dalam blog ini lengkap dengan jenis-jenis, budidaya, dan gangguan penyakit serta kalkulasi keuntungan dalam budidaya buah naga. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda selain dunia tanaman hias.
Buah naga ( Dragon fruit ) dihasilkan dari tanaman kaktus jenis pemanjat. Tanaman ini berasal dari daerah beriklim tropis kering, yakni Amerika tengah dan Amerika Salatan. Di habitat aslinya buah naga tentu saja dapat berkembang dengan baik. Seperti Meksiko misalnya, karena itu mereka telah mampu mengekspor naga le seluruh dunia.
Tanaman kaktus pada umumnya jarang sekali menghasilkan buah. Mereka kebanyakan hanya berfungsi sebagai tanaman hias. Tidak banyak tanaman kaktus yang bisa menghasilkan buah yang bisa dimakan. Salah satu tanaman kaktus yang menghasilkan buah adalah dari sub famili Hylocerenae.
MORFOLOGI
Morfologi tanaman buah naga terdiri dari, akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung. Batang berwarna hijau berpenampang segitiga, segi empat atau segi enam. Lebar penampang tak lebih dari 8 cm. Durinya hitam berukuran kecil. Dia tunbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga. Bentuknya mirip bunga wijayakusuma . Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah,berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor ular naga. Karena itulah mengapa buah ini disebut dengan nama buah naga.
SYARAT TUMBUH
Tanaman buah naga akan tumbuh secara optimal di daerah tropis kering. Tempat yamg ideal bagi tanaman kaktus buah naga adalah dataran rendah ( ideal 2 – 100 m dpl ) dengan intensitas sinar matahari yang tinggi ( min. 10 – 12 jam sehari ). Karena tanaman ini termasuk tanaman daerah bersuhu panas ( 25 – 35 derajat celcius).
Tanaman buah naga memerlukan lahan tanam yang subur dan banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Disamping itu buah naga juga menghendaki lahan tanam yang beraerasi ( surkulasi udara ) dan berdrainase ( sirkulasi air ) yang baik. Artinya lahan harus gembur/ remah dan aliran air lancar ( tidak tergenang ). Dalam lahan yang gembur masih terdapat ruang – ruang bagi udara untuk bersirkulasi.Buah naga dapat hidup di tanah yang ber- pH mendekati netral hingga netral ( pH 5 – 7 ). Jika mendapati tanah yang pH-nya kurang dari 5, kapur dolomit bisa digunakan untuk menetralkanya.
SUBFAMILI HYLOCEREANAE BUAHNYA PALING ENAK
Dari ribuan jumlah species kaktus, kaktus buah naga adalah salah satu jenis tanaman kaktus yang menghasilkan buah yang bisa dimakan. Kelompok kaktus yang bisa dimakan ada 49 jenis, namun semuanya enak dilidah. Hylocereanae adalah subfamili kaktus yang daging daging buah bisa dimakan dan enak rasanya. Subfamili Hylocereanae terdiri dari 3 genus yaitu Hylocereus ( 18 jenis ), Selenicereus ( 25 jenis ) dan Aporacactus ( 6 jenis ). Primadona dari Hylocereus adalah Helocereus undatus buahnya paling besar, daging buah putih, kulit merah.Dari genus Selenicereus, yang paling enak adalah Selenicereus megalanthus, kulitnya kuning daging buahnya putih sisik naganya tidak begitu jelas. Pada sekujur buah terdapat tojolan – tonjolan kecil . Sedangkan Aporocactus buahnya tidak enak untuk dimakan. Dari ketiga genus itu yang paling marketabel adalah Hylocereus undatus yang buahnya paling besar dan banyak dibudidayakan orang sebagai tanaman buah – buah dengan nama “ BUAH NAGA “. Sedang Selenicereus megalanthus disebut buah naga kuning dan dipasarkan dengan nama “ Yellow Pitaha “.

Beberapa kiriman email menanyakan apakah media pakis bekas harus dibuang dan tidak bisa digunakan lagi ? Adakah cara atau bahan untuk mendaur ulang pakis bekas ? Gangguan apa yang terjadi kalau menggunakan media bekas ?
Memang lebih baik menggunakan pakis yang benar-benar baru untuk penggantian media, tetapi dibeberapa daerah yang sulit mendapatkan pakis atau mungkin kita merasa sayang membuangnya ada cara untuk lebih amannya menggunakan pakis bekas. Tapi sebelumnya perlu kita tahu apa saja yang menjadi kekurangan dan sebab gangguan media pakis bekas.
Pakis bekas tentu saja berbeda tingkat keasaman (ph) dan banyaknya bakteri, jamur, sisa-sisa pupuk kimia yang merugikan, dan lain-lain yang tentu saja tidak baik kalau langsung digunakan kembali atau tanpa diolah lebih dulu. Saya sendiri biasanya menggunakan kapur untuk menetralkan keasaman dan menjemur pada terik matahari dengan disemprot fungisida dan bakterisida terlebih dulu atau juga bisa dengan cara sangrai tetapi karena umumnya pakis bekas sudah lapuk dan gampang sekali menjadi hancur dan lembut yang tentu saja kurang baik pada sirkulasi udara yang dibutuhkan akar untuk pernafasan.
Mengenai kandungan unsur hara tidak jauh berbeda karena pakis baru pun sangat miskin kandungan unsur haranya. Karena itulah media pakis biasanya dicampur dengan kompos atau pupuk kandang dan pupuk kimia dalam berbagai bentuk. Dalam media bekas sisa-sisa ( ampas ) dari bahan-bahan tersebut yang merugikan dan kemungkinan tumbuhnya gangguan penyakit cukup besar.
Untuk pemakaian kembali pakis bekas lebih baik diberi beberapa buah arang pada sekitar akar, atau bisa juga menggunakan daun tembakau dan beberapa media lain yang bisa menyerap zat-zat merugikan pada media pakis bekas tersebut. Semoga bermanfaat.

Terkadang saat kita memanen biji-biji Anthurium dari tongkol yang matang siap panen, mungkin dengan kesibukan/pekerjaan lain atau kepentingan untuk menjual kembali dalam bentuk biji kita harus menunda untuk segera menyemai biji-biji tersebut. Bagaimana cara agar biji-biji tersebut lebih tahan lama dan tetap tumbuh dalam proses penyemaian nantinya ?
Sebenarnya kunci terpenting terletak pada suhu dan kadar air yang terkandung dalam biji-biji tersebut. Biji harus diletakkan dalam wadah/ruangan yang benar-benar kering dan suhu idealnya adalah 26-30 derajad Celcius, karena dalam kondisi lembab dan basah biji tersebut akan segera tumbuh tunas dan rawan membusuk akibat serangan cendawan. Sementara kadar air dalam biji tidak boleh lebih dari 10%.
Di samping itu sirkulasi udara juga harus lancar dan jangan disimpan dalam wadah yang benar-benar tertutup. Dan yang harus diperhatikan, lendir yang menyelimuti biji harus dibersihkan dan diangin-anginkan sampai kandungan air berkurang.
Biji-biji tersebut diletakkan diatas kain kasa atau kertas tipis/tissue yang kering sampai waktunya disemai, tetapi alangkah baiknya biji tersebut disemai jangan sampai melebihi 2 minggu, karena otomatis prosentase keberhasilan biji bias tumbuh tunas akan menurun. Untuk waktu yang lebih lama sebenarnya ada zat/larutan pengawet kimia yang bisa digunakan dan bertahan lebih dari sebulan. Tapi bagi anda yang kurang pengalaman alangkah baiknya kalau tidak menggunakan cara tersebut.

Di berbagai forum dan mailist tentang tanaman hias semakin ramai membicarakan tentang media massa yang dirasakan sudah tidak objektif lagi tentang berita menyangkut trend tanaman hias, ada yang bilang media massa sekarang bisa dibeli oleh para pemain besar dan kaum kapitalis, berita-berita yang ada hanya memihak pihak-pihak yang berkepentingan dan yang menguntungkan redaksi, media hanya memuat berita yang sensasional tapi tidak sesuai dengan fakta di lapangan, wartawannya yang asal kutip dari narasumber yang berkepentingan, bahkan media massa yang bisa dibilang terbesar di Indonesia dikecam habis-habisan tentang headline-nya Booming Sansevieria. Diberitakan bahwa transaksi besar-besaran sudah terjadi dan sebentar lagi menggantikan booming Anthurium sebelumnya. Tapi fakta dilapangan sangat jauh berbeda.
Menurut saya pribadi, dengan pemahaman saya bahwa media sebagai media penyampai informasi, berita terkini, update kejadian seputar tanaman hias, media promosi baik iklan maupun profil perusahaan sangatlah berperan besar bagi perkembangan dunia tanaman hias umumnya. Dan kita sebagai pembaca harusnya bisa memilah mana yang aktual dan terpercaya, mana yang jebakan mencari sensasi demi meningkatnya omset penjualan. Nah, seiring berjalannya waktu dengan para pembaca yang semakin kritis dan cerdas dan mampu membedakan mana yang bonafid dan yang tidak, maka seleksi otomatis akan berjalan dan media yang tidak bonafid akan hilang/tutup dengan sendirinya.
Pada dasarnya saya lebih menyetujui “saran & kritik” daripada hujatan. Saya sendiri pernah merasakan keberatan dengan media cetak “AGROBIS” Jawa Pos Grup karena di halaman BURSA-nya memuat foto-foto Anthurium saya di blog, tetapi dengan harga yang lebih rendah dan semua itu tanpa konfirmasi dulu. Pemberitaan tersebut jelas merugikan saya, karena banyak teman yang mengira saya membanting harga dan tentu saja tidak mengenakkan bagi rekan-rekan pemain. Tapi saya tidak menuntut apapun, karena saya berusaha memaklumi bahwa saat itu mungkin redaksinya kekurangan berita dan halaman belum penuh… Belum lagi artikel gutasi yang dimuat ulang tanpa mencantumkan sumber yang jelas, foto-foto saya yang dimuat tapi atas nama pemilik orang lain ( di beberapa media cetak dadakan ) yang tentu saja mengecewakan saya. Untuk hal seperti itu bagi saya bukan masalah yang harus diperpanjang, tapi kalau berita/artikel tentang ilmu tanaman yang bertentangan dengan yang sebenarnya ( misal penyilangan yang tak bisa terjadi tapi dibilang sudah jadi ) saya sangat keberatan sekali dan harus segera diluruskan, karena merugikan banyak orang ( pemula dan orang awam ) dan sudah menjadi pembodohan publik.
Di tengah krisis yang melanda usaha tanaman hias sekarang ini, mungkin para pemain yang sedang mengalami masa sulit menjadi lebih sensitif dan emosional berujung opini dan hujatan yang “kasar” tentang media massa yang dipandang salah dalam pemberitaannya. Tapi kita lupa bahwa media massa dibuat dan berasal dari sumber yang tetaplah manusia biasa yang wajar sekali khilaf melakukan kesalahan. Tentang sensasi demi popularitas saya rasa itu sah-sah saja selama tidak merugikan banyak pihak dan bisa dipertanggungjawabkan. Popularitas lebih cepat dicapai dengan sesuatu yang kontroversial, seperti yang terjadi pada Inul yang semakin popular waktu bermasalah dengan Rhoma Irama, popularitas Roy Suryo di dunia maya dengan pernyataan sensasionalnya dan masih banyak lagi.
Mari berusaha bijaksana dan memandang semuanya dengan akal dan hati yang sehat, mari bersama-sama memajukan dunia tanaman hias Indonesia sesuai “kapasitas diri” jangan hanya menyalahkan tapi tak punya solusi untuk meluruskannya, Apa saja yang sudah kita perbuat untuk memajukan dan bermanfaat bagi orang banyak ? Bukankah kita sering lupa ketika keuntungan terus mengalir dan hanya berusaha mencari keuntungan yang lebih besar? Bukankah kita sering lupa bahwa media juga sangat berperan besar bagi usaha kita ? Apakah bisa dibilang kebenaran jika karena tanaman kita tak laku lagi kita sibuk mencari kesalahan-kesalahan pihak lain ? Kita selalu menyalahkan para pemain/pemodal besar, para spekulan, tapi kenapa kita tidak menjadi pemain besar atau spekulan juga? Karena kita tidak mampu untuk kearah sana, dan apakah kita tidak menyadari bahwa sesuatu usaha yang besar dihadapkan pada resiko yang juga lebih besar ? Bukankah kita sering lupa bercermin, sudahkah kita berpikir maju dan memajukan diri sendiri ?
Selalu ada pro kontra menanggapi opini seseorang, banyak juga yang menghujat saya sok nasionalis, pembela yang lemah, sok bersih dan bijaksana, dan masih banyak lagi. Saya menyadari sebenar-benarnya bahwa saya masih harus belajar banyak dan introspeksi diri. Mari bersama-sama tegar dan segera bangun dengan strategi dan pemikiran baru.

Di tahun 2008 sampai dengan bulan April, bisnis tanaman hias mengalami tidur panjang di seluruh penjuru Indonesia. Para pemain di bisnis ini banyak sekali yang mengeluh dan putus asa karena banyak dari mereka yang menggunakan modal yang cukup besar untuk bermain di jual beli tanaman hias. Ada yang rela menjual mobil, rumah, tanah dan properti lain untuk mendatangkan tanaman hias yang sedang trend dalam jumlah yang besar berharap keuntungan yang segera berlipat ganda.
Dan kini, ketika geliat pasar tanaman hias yang tetap sepi, animo masyarakat dengan event-event besar juga menurun drastis, mereka hanya melihat-lihat tapi masih ragu membeli. Ada yang beralasan masih menunggu harga murah, ada yang takut kalau tanaman yang mau mereka beli tak laku lagi, ada yang mengaku trauma dengan harga Anthurium yang gila-gilaan kemudian turun drastis, ada yang mengunjungi pameran hanya untuk melihat perkembangan dunia tanaman hias umumnya.
Rangkaian bencana alam yang melanda republik ini juga sangat mempengaruhi roda perekonomian di segala bidang usaha. Daya beli masyarakat masih belum stabil ? Atau kepercayaan publik menurun dengan berita media massa yang dirasakan tidak sesuai fakta dan tidak objektif lagi ikut berpengaruh dengan semua ini ? Apakah masyarakat masih trauma dengan booming Anthurium kemarin ? Apakah orang yang membeli tanaman hias lebih banyak dengan alas an bisnis daripada orang yang membeli karena hobby dan kesenangan saja ? Apakah persiapan menjelang pemilu 2009 ikut mempengaruhi bisnis tanaman hias ? Apakah jumlah di lapangan terlalu over yang tidak sesuai dengan permintaan pasar ? Bagaimana perkembangan di Thailand sana ? Apakah mereka siap menggelontor pasar Indonesia dengan varian baru seperti yang dulu-dulu ? Bagaimana nasib tanaman hias lokal kedepannya ?
Banyak rekan-rekan pemain mengirim email yang menanyakan perkembangan Anthurium kedepannya, mereka juga sedikit menyindir saya yang mengatakan kesannya saya tenang-tenang saja walaupun pasar Anthurium sepi… Sebaliknya “rekan-rekan seperjuangan” di Anthurium banyak yang bercanda bahwa bukankah keuntungan booming Anthurium kemarin cukup untuk “makan” untuk 3-5 tahun kedepan ? Ngapain bingung? Lebih baik investasi dibidang lain yang sedang in, sementara menunggu celah dalam perkembangan tanaman hias jika bergeliat lagi. Alasan ini juga cukup “masuk akal” dan saya memaklumi karena latar belakang beliau-beliau murni pebisnis atau lebih tepatnya spekulan, jarang sekali dari mereka yang “hanya” menggantungkan hidupnya dibisnis tanaman hias. Saya sendiri saat ini juga lebih fokus dibidang peternakan dan ukiran kayu, tapi memang usaha tersebut lebih dulu saya jalani sebelum saya mendirikan nursery. Karena prinsip saya yang tidak mungkin menggantungkan hidup di satu bidang usaha saja, karena saya memandang semua bisnis tidak ada yang abadi ( mungkin bisnis pornografi saja yang mampu bertahan sampai akhir jaman …) Selalu ada pasang surut dalam suatu usaha, dan sebagai wirausaha murni saya dituntut untuk selalu membaca peluang dan celah dalam bisnis. Dan yang pasti tidak ada diantara para orang sukses yang tidak pernah mengalami kegagalan bukan ?
Pertanyaannya, bagaimana nasib orang-orang yang hanya menggantungkan hidupnya dalam jual beli tanaman hias ? sementara modal sudah habis terlanjur dibelanjakan tanaman hias, untuk mengambil pinjaman atau kredit usaha sudah tak mungkin lagi. Biaya operasional perawatan tanaman juga harus dipenuhi, sementara keuntungan penjualan tak bisa menutup biaya tersebut, dan kebutuhan hidup selalu menunggu.
Jika orang-orang yang memperoleh keuntungan besar di Anthurium cuek saja dan cuci tangan, alangkah kejamnya mereka. Tapi mau “membantu meramaikan”, apakah sebab sepinya pasar hanya karena orang trauma Anthurium ? Bukankah masih banyak faktor penyebab lain ? Jika memang disebabkan karena trauma Anthurium, mengapa tanaman hias lain belum ada yang menggantikan trend-nya ? Salahkah mereka jika segera “menyelamatkan diri” dan menggali keuntungan dibidang lain. Seorang sahabat saya bilang “ Ini bisnis Pak Deni, jaman sekarang persaingan sangat ketat dan sulit, dan yang pertama yang harus diselamatkan adalah diri kita sendiri, bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau kita belum bisa “tegak berdiri di kaki sendiri” ?
Sebagian masyarakat kita masih menganut budaya saling menyalahkan, hujat sana hujat sini, mencari kambing hitam, tanpa mau secara gentle mengakui kekurangan diri. Banyak orang yang menghujat oknum-oknum koruptor di republik ini, tapi bolehkah saya mengajukan pertanyaan “ Seandainya anda duduk diposisi mereka ( pejabat ) apakah anda berani menjamin kalau anda tidak akan korup ?” Bukankah manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah berhasil dicapai dan dimilikinya ?
Alangkah bijaksananya jika kita berusaha tegar dan tawakal berusaha sebaik mungkin menghadapi krisis ini tanpa harus saling menyalahkan, berdebat yang tak kunjung habisnya, mencari kesalahan orang lain untuk dijadikan kambing hitam. Rawatlah tanaman anda sebaik mungkin, kelak pasti bisa mendatangkan keuntungan. Bukankah tanaman selalu tumbuh seiring berjalannya waktu ?
Persaingan bisnis tak ubahnya medan perang. Dan dalam medan perang “ LEBIH BAIK MEMBAWA TIGA SINGA DARIPADA SERIBU KERBAU” anda mau menjadi singa atau kerbaunya ?
